Deviverz Shop

untuk info lebih lanjut bisa klik 

untuk format pengorderan caranya :
kirim sms ke nomer 08977777606 / 081232222245
Order (merek sepatu) (size sepatunya) (daerah pemesanan) dan (nama pengirim)
khusus untuk daerah JABODETABEK free ongkir , diluar itu ongkir ditanggung pembeli

atau coment di grup deviverz shop

1002415_454137974676878_423670350_n

Memahami Konsep ISO

Memahami Konsep ISO

Secara definisi ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya. Semakin tinggi setting ISO kita maka semakin sensitif sensor terhada cahaya.

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang setting ISO di kamera kita (ASA dalam kasus fotografi film), coba bayangkan mengenai sebuah komunitas lebah.

  1. Sebuah ISO adalah sebuah lebah pekerja. Jika kamera saya set di ISO 100, artinya saya memiliki 100 lebah pekerja.
  2. Dan jika kamera saya set di ISO 200 artinya saya memiliki 200 lebah pekerja.

Tugas setiap lebah pekerja adalah memungut cahaya yang masuk melalui lensa kamera dan membuat gambar. Jika kita menggunakan lensa identik dan aperture sama-sama kita set di f/3.5 namun saya set ISO di 200 sementara anda 100 (bayangkan lagi tentang lebah pekerja), maka gambar punya siapakah yang akan lebih cepat selesai?

Secara garis besar:

  1. Saat kita menambah setting ISO dari 100 ke 200 (dalam aperture yang selalu konstan – kita kunci aperture di f/3.5 atau melalui mode Aperture Priority – A atau Av), kita mempersingkat waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan sebuah foto di sensor kamera kita sampai separuhnya (2 kali lebih cepat), dari shutter speed 1/125 ke 1/250 detik.
  2. Saat kita menambah lagi ISO ke 400, kita memangkas waktu pembuatan foto sampai separuhnya lagi: 1/500 detik.
  3. Setiap kali mempersingkat waktu esksposur sebanyak separuh, kita namakan menaikkan esksposur sebesar 1 stop.

Anda bisa mencoba pengertian ini dalam kasus aperture, cobalah set shutter speed kita selalu konstan pada 1/125 (atau melalui mode Shutter Priority – S atau Tv), dan ubah-ubahlah setting ISO anda dalam kelipatan 2; missal dari 100 ke 200 ke 400 …dst, lihatlah perubahan besaran aperture anda.

Memahami Konsep Exposure

Memahami Konsep Exposure

Seringkali setelah membeli kamera digital baik slr maupun point & shoot, kita terpaku pada mode auto untuk waktu yang cukup lama. Mode auto memang paling mudah dan cepat, namun tidak memberikan kepuasan kreatifitas.

Bagi yang ingin “lulus dan naik kelas” dari mode auto serta ingin meyalurkan jiwa kreatif  kedalam foto-foto yang dihasilkan, ada baiknya kita pahami konsep eksposur. Fotografer kenamaan, Bryan Peterson, telah menulis sebuah buku berjudul Understanding Exposure yang didalamnya diterangkan konsep eskposur secara mudah.

Peterson member ilustrasi tentang tiga elemen yang harus diketahui untuk memahami eksposur, dia menamai hubungan ketiganya sebagai sebuah Segitiga Fotografi. Setiap elemen dalam segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya, bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan kamera.

long eksposure

Ketiga elemen tersebut adalah:

  1. ISO – ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya
  2. Aperture – seberapa besar lensa terbuka saat foto diambil
  3. Shutter Speed – rentang waktu “jendela’ didepan sensor kamera terbuka

Interaksi ketiga elemen inilah yang disebut eksposur.  Perubahan dalam salah satu elemen akan mengakibatkan perubahan dalam elemen lainnya.

Perumpamaan Segitiga Eksposur

Mungkin jalan yang paling mudah dalam memahami eksposur adalah dengan memberikan sebuah perumpamaan. Dalam hal ini saya menyukai perumpamaan segitiga eksposur seperti halnya sebuah keran air.

  • Shutter speed bagi saya adalah berapa lama kita membuka keran.
  • Aperture adalah  seberapa lebar kita membuka keran.
  • ISO adalah kuatnya dorongan air dari PDAM.
  • Sementara air yang mengalir melalui keran tersebut adalah cahaya yang diterima sensor kamera.

Tentu bukan perumpamaan yang sempurna, tapi paling tidak kita mendapat ide dasarnya. sebagaimana anda lihat, kalau exposure adalah jumlah air yang keluar dari keran, berarti kita bisa mengubah nilai exposure dengan mengubah salah satu atau kombinasi ketiga elemen penyusunnya. Anda mengubah shutter speed, berarti mengubah berapa lama keran air terbuka. Mengubah Aperture berarti mengubah seberapa besar debit airnya, sementara mengubah seberapa kuat dorongan air dari sumbernya.

Memahami Shutter Speed

Memahami Shutter Speed

 

Secara definisi, shutter speed adalah rentang waktu saat shutter di kamera anda terbuka. Secara lebih mudah, shutter speed berarti waktu dimana sensor kita ‘melihat’ subyek yang akan kita foto. Gampangnya shutter speed adalah waktu antara kita memencet tombol shutter di kamera sampai tombol ini kembali ke posisi semula.

Supaya mudah, kita terjemahkan konsep ini dalam beberapa penggunaannya di kamera:

  • Setting shutter speed sebesar 500 dalam kamera anda berarti rentang waktu sebanyak 1/500 (seperlimaratus) detik. Ya, sesingkat dan sekilat itu. Sementara untuk waktu eksposur sebanyak 30 detik, anda akan melihat tulisan seperti ini: 30’’
  • Setting shutter speed di kamera anda biasanya dalam kelipatan 2, jadi kita akan melihat deretan seperti ini: 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/30 dst. Kini hampir semua kamera juga mengijinkan setting 1/3 stop, jadi kurang lebih pergerakan shutter speed yang lebih rapat; 1/500, 1/400, 1/320, 1/250, 1/200, 1/160 … dst.
  • Untuk menghasilkan foto yang tajam, gunakan shutter speed yang aman. Aturan aman dalam kebanyakan kondisi adalah setting shutter speed 1/60 atau lebih cepat, sehingga foto yang dihasilkan akan tajam dan aman dari hasil foto yang berbayang (blur/ tidak fokus). Kita bisa mengakali batas aman ini dengan tripod atau menggunakan fitur Image Stabilization (dibahas dalam posting mendatang)
  • Batas shutter speed yang aman lainnya adalah: shutter speed kita harus lebih besar dari panjang lensa kita. Jadi kalau kita memakai lensa 50mm, gunakan shutter minimal 1/60 detik. Jika kita memakai lensa 17mm, gunakan shutter speed 1/30 det.
  • Shutter speed untuk membekukan gerakan. Gunakan shutter speed setinggi mungkin yang bisa dicapai untuk membekukan gerakan. Semakin cepat obyek bergerak yang ingin kita bekukan dalam foto, akan semakin cepat shutter speed yang dibutuhkan. Untuk membekukan gerakan burung yang terbang misalnya, gunakan mode Shutter Priority dan set shutter speed di angka 1/1000 detik (idealnya ISO diset ke opsi auto) supaya hasilnya tajam. Kalau anda perhatikan, fotografer olahraga sangat mengidolakan mode S/Tv ini.
  • Blur yang disengaja – shutter speed untuk menunjukkan efek gerakan. Ketika memotret benda bergerak, kita bisa secara sengaja melambatkan shutter speed kita untuk menunjukkan efek pergerakan. Pastikan anda mengikutkan minimal satu obyek diam sebagai jangkar foto tersebut

3 Alasan Anda Tidak Perlu Takut Memotret Dengan ISO Tinggi

3 Alasan Anda Tidak Perlu Takut Memotret Dengan ISO Tinggi

memotret dengan ISO tinggi

Kita menggunakan ISO yang sangat tinggi (diatas 800) ketika menghadapi situasi seperti ini: saat sumber cahaya yang tersedia sangat redup, saat kita membutuhkan shutter speed yang tinggi, saat kita tidak ingin menggunakan lampu flash, serta saat kita tidak membawa tripod. Concern terbesar ketika kita menaikkan ISO sampai diatas 800 adalah munculnya noise, bintik kecil hitam yang biasanya muncul di hasil akhir foto.

Namun berbahagialah anda, karena nampaknya kekhawatiran tentang munculnya noise ini bisa mulai dikikis. Ada 3 alasan yang cukup bagus sehingga anda bisa tenang meskipun menggunakan ISO tinggi dalam pemotretan. Apa saja? :

    1. Perkembangan Teknologi Kamera

Hampir semua kamera SLR generasi terbaru memiliki teknologi pengurang noise (noise reduction) yang sangat handal, kita bisa memotret sampai dengan ISO 1800 dan hasilnya masih sangat layak. Setahu saya, hampir semua kamera SLR keluaran Nikon maupun Canon dari kelas pemula sampai kelas pro sangat jago dalam menyingkirkan noise yang timbul dari pemakaian ISO yang tinggi. Bahkan beberapa kamera saku yang berkualitas seperti halnya Panasonic LX3 (atau yang terbaru LX5) menerapkan teknologi noise reduction dengan sangat baik.

    1. Kita Bisa Memanfaatkan Software Noise Reduction

Kalau kebetulan kamera anda belum memiliki teknologi noise reduction yang canggih, anda toh bisa memanfaatkan software noise reduction saat memproses foto di komputer. Software macam Noise Ninja, Noiseware atau Dfine sangat ampuh menyisihkan noise dari foto anda secara cepat dan mudah.

    1. Tidak Semua Noise Itu Dosa

Ya betul, bahkan ketika anda tidak memiliki kamera dengan teknologi noise reduction yang canggih serta tidak ingin menggunakan software penghilang noise, jangan khawatir. Tidak semua noise yang muncul dalam foto anda wajib disingkirkan. Kadang foto justru tampak artistik dengan adanya noise yang timbul. Foto dibawah ini dihasilkan dengan ISO 800, menggunakan kamera SLR kelas pemula yang relatif sudah agak jadul (Nikon D40), serta tidak diolah dengan software noise reduction. Anda bisa melihat banyak noise di latar belakang ungu, dan hasilnya tetap saja bagus bukan?

2054570869_e302bbd353.jpg

Oke, selamat memotret di ISO tinggi !!

Tips Agar Foto Tetap Tajam di Situasi Minim Cahaya

Agar Foto Tetap Tajam di Situasi Minim Cahaya

Seringkali obyek menarik datang dalam situasi dimana kita harus memotret dalam kondisi minim cahaya dan kita tidak ingin (atau tidak bisa) menggunakan flash, padahal kita ingin menghasilkan foto yang tetap tajam. Obyek seperti view kota saat malam yang indah, konser musik di malam hari atau suasana pesta sayang dilewatkan begitu saja tanpa kamera beraksi. Berikut adalah tips untuk bisa tetap menghasilkan foto yang optimum:low light photo

  1. Tripod atau monopod. Alat yang paling handal dan mudah adalah tripod atau monopod.
  2. Jika tripod tidak tersedia, usahakan agar kamera tetap stabil dengan memanfaatkan lingkungan sekitar,  misalnya dengan menyandarkan badan ke tempok, menyandarkan kamera ke tangga dan lain-lain.
    tripod
  3. Usahakan untuk menggunakan aperture sebesar mungkin, jika lensa anda memiliki batas aperture terbesar f/2.8, pakailah aperture f/2.8
  4. Jika dua trik diatas belum cukup, naikkan ISO kamera  hingga shutter speed kita mencapai minimal 1/60 (pada beberapa kamera generasi terbaru bisa menggunakan  setting ISO hingga diatas 1000 dan masih bisa menghasilkan foto yang rendah noise)
  5. Saat menggunakan tips ke-4, sebaiknya aktifkan fitur High ISO Noise Reduction di kamera untuk mengurangi noise, atau pilihan kelima berikut lebih baik (dan lebih mahal) yakni:
  6. Atau anda bisa melewati tips ke-5 dengan memakai software noise reduction untuk mengurangi noise pada tahap post production. Software semacam Noise Ninja, Imagenomic Noiseware atau Nik’s Dfine lumayan ampuh menjinakkan noise di hasil akhir foto kita. Jika anda menggunakan Lightroom 4 untuk mengatur koleksi foto, Lightroom memiliki fitur noise reduction yang sangat canggih.
  7. Baca kembali aturan mengenai shutter speed yang optimum: jika anda memakai panjang focal Xmm, sebaiknya shutter speed anda diatas 1/X detik. Lebih detail baca disini.

Dengan Auto ISO, Foto Anda Lebih Tajam Setiap Saat

Dengan Auto ISO, Foto Anda Lebih Tajam Setiap Saat

Katakan anda sedang traveling atau jalan-jalan sambil menenteng kamera, disaat tidak terduga akan selalu muncul momen yang sangat bagus untuk difoto. Momen seperti ini berlangsung sekejap dan tidak akan terulang lagi. Saat anda melihat momen tersebut dan langsung memotret agar tidak kehilangan momen, ada kemungkinan foto yang anda hasilkan akan kabur atau blur.

Kenapa blur? banyak alasannya, salah satunya adalah karena momen tersebut terjadi di area yang kondisi cahayanya tidak sempurna sehingga shutter speed kita lambat, katakanlah 1/60 detik. Dengan shutter speed seperti ini sementara kita memotret tidak dibawah sinar matahari langsung, dijamin foto anda akan sedikit blur. Bagaimana triknya?

Nikon auto iso d7000

Untuk mengindarinya, triknya adalah dengan mengaktifkan fitur Auto ISO yang ada dikamera. (kalau anda bingung kenapa menaikkan ISO bisa menaikkan shutter speed, baca konsep exposure dan baca konsep ISO untuk pemula) Dengan setting Auto ISO: ON, kamera akan secara otomatis menaikkan ISO saat shutter speed kamera menjadi lambat. Saat Auto ISO aktif, kita bahkan bisa menentukan batas minimal shutter speed dan juga menentukan ISO maksimum. Jadi seolah-olah kita perintahkan kamera: “Hey kamera, begitu shutter speed dibawah 1/125 detik, naikkan ISO, tapi jangan terlalu tinggi ya! maksimal 3200 ISO saja!!”

Bagaimana Cara Mengaktikan Auto ISO?

Dikamera DSLR Canon, pencet dan tahan tombol +/- ISO, lalu putar main dial sampai tertera A (Auto) di layar LCD atas, lalu pilih 1/125 detik sebagai shutter speed minimal.

Dikamera DSLR Nikon, masuk ke Shooting Menu, lalu ISO Sensitivity, pilih ISO Sensitivity Auto Control, pilih ON, lalu pilih 1/125 sebagai shutter speed minimum lalu klik OK.

Berapa Batas Maksimum ISO Yang Aman?

7d auto iso hero

Jawabannya tergantung kamera anda, sesekali ujilah noise yang dihasilkan kamera saat anda menggunakan ISO yang tinggi, misal 3200 atau 1600. Kalau di ISO 3200 anda masih oke dengan noise-nya pakai saja 3200 untuk batas maksimum ISO. Juga tergantung prioritas, anda lebih suka mana, foto yang blur atau foto yang dengan noise?